kemegahan-di-balik-kabut-lembah-baliem-1
| Foto Makhfud Sappe
Destination
Kemegahan di balik Kabut Lembah Baliem (1)
Makhfud Sappe
Fri, 14 Mar 2025
Di balik deretan pegunungan Papua yang diselimuti kabut pagi, dihelat sebuah perayaan untuk mempertahankan kebudayaan dan adat.


Lembah Baliem, rumah bagi suku Dani, Lani, dan Yali—komunitas adat yang hidup harmonis dengan alam, dan tetap merawat tradisi turun-temurun. Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) digelar setiap bulan Agustus. Pertama kali digelar pada 1989, festival menjadi kegiatan tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya. Tujuannya untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya suku Dani, Lani dan Yali yang bernanung di Lembah Baliem. 

Awalnya sebagai upaya meredam konflik antarsuku melalui acara budaya. Kini, Festival Baliem menjadi simbol persatuan dan kebanggaan Papua dan merupakan salah satu dari agenda Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Patiwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf)—kini Kementerian Pariwisata.

Tahun 2024, FBLB mengusung tema “The Pearl of Great Baliem” sukses digelar pada 7-10 Agustus 2024 lalu di Distrik Usilimo, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Festival dibuka oleh Pj Gubernur Papua Pegunungan, Dr. Velix Vernando Wanggai, SIP, MPA. Sandiaga Salahuddin Uno, kala itu menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif hadir di hari kedua. Kehadirannya memberi warna tersendiri mengingat selama 32 kali festival berlangsung, belum pernah dihadiri oleh menteri pariwisata.

Mencapai Wamena bukan perjalanan singkat. Dari Jakarta kami terbang lebih lima jam untuk sampai di Jayapura. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan ATR 52 Wings Air, pesawatl berkapasitas 52 penumpang. Penerbangan melintasi pegunungan hijau yang menjulang, masuk ke jantung Papua, ke Lembah Baliem. Wamena saat ini menjadi Ibu Kota Provinsi Papua Pegunungan, pemekaran dari Provinsi Papua.

Saat roda pesawat menyentuh landasan Bandara Wamena, udara sejuk langsung menyergap. Di sini, modernitas dan tradisi bertaut: pria-pria bersarung koteka berdiri berdampingan dengan anak muda bermotor.

Wamena sebuah kota kecil dengan populasi sekitar 282 ribu jiwa berada di ketinggian 1600 mdpl, perkembangan teknologi sudah sampai ke kota ini, tidak sedikit receiver segi empat dari Starlik terpasang di atap-atap kantor dan rumah.

Hari Pertama: Perang Simbolis dan Kekuatan Persaudaraan

Pagi hari, kabut mulai menipis. Ribuan orang berkumpul di lapangan luas di Kampung Wosiala yang dikelilingi perbukitan. Suku-suku dari berbagai daerah sekitar Wamena datang dengan pakaian tradisional: pria mengenakan koteka dan hiasan bulu burung cendrawasih di kepala, sementara wanita memakai yokal, rok dari rumput dengan tubuh dilumuri minyak babi dan tanah liat putih. 

Bunyi pikon, alat musik tiup dari bambu dan genderang kulit kadal menyambut kedatangan para kepala suku. Sebelum memasuki lapangan puluhan UKM penjual cinderamata dan makanan khas Papua berjejer sampai area festival.

Puncak pertunjukan hari pertama adalah Atraksi Perang— sebuah simulasi pertempuran antarkelompok. Puluhan pria bersenjatakan tombak kayu dan busur panah berbaris di dua sisi, wajah mereka dihiasi cat putih dan merah menyala. Teriakan, pekik perang menggema namun tak ada darah yang tumpah.

“Ini bukan tentang kekerasan, tapi tentang menunjukkan eksistensi adat kesukuan yang syarat nilai kekeluargaan, keberanian, dan keseimbangan hidup yang harmonis dengan alam," Evi Aryati Arbay, operator perjalanan specialist yang juga seorang ethnografer, penulis buku Dani The Highlander (Manusia Pegunungan), menjelaskan.

Penjelasan Evi Aryati benar terbukti. Usai aksi perang-perangan, mereka saling berjabat tangan dan berpelukan. Persaudaraan penting dari segalanya. 

BERSAMBUNG Ke : (2)


Share

Popular News

More Latest News