Ini adalah Spanyol yang luar biasa. Menghadapi tim favorit Prancis pada laga semifinal Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Rabu (15/7) dini hari WIB, La Roja menampilkan permainan sempurna dan menang 2-0.
Laju Spanyol menuju final dipastikan melalui gol penalti Mikel Oyarzabal di menit ke-22 dan tendangan Pedro Porro di menit ke-58.
Sang juara Euro 2024 itu memeragakan permainan kolektif yang rapi. Mereka berani meladeni penampilan agresif Prancis, juga melakukan pressing ketat kepada setiap lawan yang membawa bola.
Pelatih Spanyol Luis de la Fuente menegaskan para pemainnya memang layak berada di final setelah penampilan itu. Dibanding performa sebelumnya, mulai dari babak grup saat gagal mencetak gol ke gawang Cape Verde, La Roja berkembang semakin baik dan semakin solid. Standar yang dipatok semakin tinggi.
“Setiap usaha yang kami lakukan, setiap pengorbanan yang dibuat—kami mencoba melebihi versi terbaik kami,” kata De la Fuente seusai pertandingan. “Kami berhasil menangkap semangat 2010. Karakter tim menjadi buktinya. Kami berproses dan berencana mencapai tahap ini dalam bentuk sebaik mungkin.”
Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan adalah momen ketika dunia melihat kemunculan model sepak bola Tiki-taka yang halus, indah, dan mematikan. Spanyol juara saat itu, mengalahkan Belanda dengan Total Football-nya yang terkenal.
Tiki-taka menjadi ciri khas permainan Spanyol kemudian, tapi baru kali ini disajikan dengan kesempurnaan setanding. Setiap lini berjibaku menggalang serangan dan menjaga pertahanan. Setiap pemain berlari tanpa kenal lelah dan berduel gagah berani.
Prancis biasanya menyerang secara eksplosif dengan skill individu para pemainnya yang brilian. Spanyol meladeni dengan permainan terbuka. Kolektif. Ada setidaknya 487 umpan yang dilakukan Lamine Yamal cs, berbanding dengan 408 pergerakan bola dari kaki ke kaki yang dibuat para pemain Prancis.
Dominasi Les Bleus, yang menang terus hingga semifinal, patah di laga ini. Trio penyerang Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise tak berkutik. Setiap kali membawa bola, mereka langsung dikeroyok dua atau tiga pemain Spanyol. Minim peluang, sulit melepas tendangan. Prancis tak punya kesempatan membalas.
“Harus diakui, kami sedikit di bawah level biasanya. Ini fatal saat melawan tim yang benar-benar mampu menguasai permainan. Kami kurang berbahaya saat menyerang, kurang presisi memberikan umpan yang mungkin bisa berbuah gol. Ini realita yang menyakitkan,” kata pelatih timnas Prancis Didier Deschamps, yang akan mengakhiri kontrak selepas Piala Dunia 2026.
Membesut Les Bleus sejak 2010, Deschamps membawa tim juara Piala Dunia 2018, mencapai final Euro 2016, juara UEFA Nations League 2021, finalis Piala Dunia 2022, dan semifinalis edisi 2026. Rekor 20 kemenangan di putaran final Piala Dunia sebagai pelatih juga terbanyak dalam sejarah timnas Prancis.
Spanyol, yang mencatatkan rekor 37 pertandingan tanpa kalah di sepak bola internasional (sama dengan catatan Italia pada 2018-2021), akan menghadapi pemenang semifinal lainnya yang menampilkan Inggris vs Argentina. Sedangkan Prancis akan menghadapi yang kalah untuk perebutan tempat ketiga.
Laga final Piala Dunia 2026 bakal dihelat di New Jersey Stadium, Senin (20/7) dini hari WIB. ***